Kalau kamu pernah mendegar rumor di SEO seperti fresh content adalah koentji atau punya banyak pengaruh pada SEO. Kamu datang ke artikel yang tepat!
Sebenarnya fresh content ini termasuk ranking factor atau tidak ya? Apakah lebih “segar”=lebih baik?
Fresh content adalah konten yang baru saja dipublikasi, ditulis ulang, atau di-update.
Pada beberapa kueri, Google lebih menyukai fresh content daripada konten yang sudah berumur.
Dikutip dari MoZ, Google mengestimasi freshness suatu konten lewat beberapa parameter, yaitu:
Beberapa konten pada SERP dengan search query tertentu akan semakin outdate dengan semakin banyak waktu berjalan.
Contoh kueri yang berkaitan dengan ini adalah breaking news dan kategori entertainment.
Google menilai seberapa sering suatu konten di-update.
Faktanya, Google mengabaikan perubahan kecil. Nah, perubahan besar seperti menambah beberapa paragraf dan gambar, atau ada perubahan signifikan yang lain itu bisa jadi skor yang bagus.
Namun, pastikan perubahan ini akan helpful untuk user ya.
Bagian penting pada konten yang berubah akan memengaruhi freshness. Contohnya perubahan sudut pandang konten terhadap suatu hal pada body text.
Contoh bagian yang tidak terlalu penting:
Google akan memberikan perlakuan berbeda pada konten yang jarang di-update dengan yang sering di-update.
Daripada revisi, tentu kita bisa menciptakan fresh content dengan menambah laman baru di situs.
Seberapa sering update laman baru dalam beberapa waktu tertentu akan menambah freshness score.
Pertumbuhan jumlah backlink yang natural akan menjadi sinyal freshness dan jadi tanda kepada search engine bahwa kontennya relevan.
Namun, jangan lupa untuk hati-hati dengan toxic backlink dan pertumbuhan external link yang tidak wajar.
Kalau kita mendapatkan backlink dari situs yang sudah lama tidak update laman baru, skor freshness-nya tidak akan sebesar dari laman yang sering update konten/laman.
Karena itulah, salah satu ciri backlink berkualitas adalah yang berasal dari situs yang sering update konten.
Seberapa lama seseorang stay di suatu laman bisa menjadi indikator freshness dan relevansi.
Kalau di SERP, user lebih senang klik pada bagian bawah dan menghabiskan waktu di sana, itu bisa jadi tanda freshness dan relevansi yang bagus.
Perubahan pada subjek/topik suatu situs dapat menyebabkan perubahan anchor text. Contohnya awalnya kita bahas kesehatan, namun berubah jadi topik otomotif. Jadi, ada perubahan anchor text dari jantung menjadi oli.
Google kemungkinan akan menentukan seberapa besar situsmu berubah dari anchor text lama yang menjadi “basi”, sehingga mengalami devalue.
Age like a fine wine juga bisa berlaku kok di Google. Beberapa kueri dengan niche sejarah sangat cocok dengan freshness.
Contoh kuerinya adalah konferensi meja bundar, bapak proklamator Indonesia, dan teks proklamasi.
Sebenarnya dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa fresh content merupakan ranking factor, namun hanya di beberapa kueri saja (tidak semua kueri). Contohnya adalah seasonal content dan breaking news yang akan “basi” pembahasannya seiring dengan berjalannya waktu. Di beberapa kueri, ada konten lama yang justru merupakan hal yang lebih baik, contohnya kueri di niche sejarah.
Beberapa update terkenal Google soal freshness adalah caffeine pada tahun 2009 yang memungkinkan Google untuk crawling lebih cepat untuk freshness yang lebih sering. Lalu update freshness pada tahun 2011, di mana mereka memberikan statement bahwa akan memberikan SERP dengan konten yang lebih fresh.
Pada tahun 2019, update soal freshness muncul lagi, yaitu featured snippet akan dibuat agar selalu fresh dan relevan.
Beberapa kueri yang sangat butuh freshness adalah:
Nah, best practice dari fresh content bukan berarti sering-sering merevisi konten lama. Kalau intinya sama saja sepertinya masih ada yang kurang, kecuali ada informasi baru yang helpful untuk user. Bukan update konten terus berharap untuk ranking.
Dikutip dari MoZ, selain update informasi baru yang helpful, beberapa best practice dari fresh content adalah:
Selain dari MoZ, beberapa best practice lain adalah:
Waktu terbaik untuk update konten adalah ketika ada:
Selain itu, perhatikan beberapa hal berikut:
Kalau kontennya punya engagement time yang rendah, tidak ada salahnya untuk A/B testing dengan merevisinya.
Konten dengan engagement time yang sebentar adalah bukti kalau kontennya tidak relevan atau terlalu pendek.
Bagaimana impresi dan klik lamannya? Kalau CTR tinggi, kemungkinan judulnya menarik dan relevan (jangan pakai clickbait berlebihan ya).
Namun, harus hati-hati dalam update judul karena slug bisa ikut berubah.
Fresh content memang berpengaruh pada ranking di kueri tertentu, sehingga konten “segar” ini bisa jadi lebih baik pada beberapa kondisi tertentu, namun bukan berarti karena konten yang kita revisi merupakan fresh content, kita hanya mengubah sedikit saja/nirfaedah. Perubahan yang tidak signifikan biasanya akan diabaikan oleh Google.
Ingat prinsip user first. Pastikan fresh content atau konten yang kita refresh bisa helpful untuk user kita!
Selain itu, jangan lupa masih banyak sinyal ranking lain dari Google selain freshness.
Happy optimizing!
Referensi:
https://moz.com/blog/google-fresh-factor-new
https://www.searchenginejournal.com/ranking-factors/fresh-content/#close
Karena sekarang AI bisa membuat teks, orang-orang jadi sulit untuk membedakan tulisan AI dan manusia.…
Mendapatkan backlink secara natural pastinya sulit, tetapi rasanya sepadan. Apalagi, jika ternyata backlink yang didapatkan…
Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…
Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…
Bridge dari Kebiasaan Membaca Personal Blog dan Konten Naratif Mendalam ke Pengalaman JRPG Modern: Mengapa…
Traffic website turun biasanya jadi alarm atau peringatan, terutama bagi pengurus website atau SEO specialist.…
View Comments
saya sampai sekarang kesulitan nyari backlink yang berkualitas