Sebelumnya, di blog ini pernah membahas konten panjang. Nah, bagaimana dengan konten pendek?
Apakah konten pendek ini sebenarnya jauh lebih baik? Adakah kelemahannya? Bagaimana cara membuatnya?
Konten pendek adalah konten dengan jumlah kata yang sedikit, yaitu di antara 50-1000 kata. Di Yoast sendiri ada warning kalau konten kita kurang dari 300 kata. Untuk video, konten pendek adalah video berdurasi kurang dari 3 menit seperti reels Instagram atau Tiktok.
Namun, tenang saja, Google telah mengonfirmasi bahwa jumlah kata bukan merupakan ranking factor.
Jika memakai estimated reading time. Konten pendek adalah konten dengan waktu baca kurang dari 7 menit.
Beberapa contoh konten pendek:
Konten pendek punya kelebihan berupa jawaban yang straight to the point, sehingga search intent pembaca bisa terjawab dengan cepat.
Pembaca tidak perlu repot-repot scanning, jawaban telah jelas terlihat hanya dengan browsing sedikit saja.
Jika audiens persona kita adalah orang yang tidak punya banyak waktu seperti niche b2b, konten pendek yang straight to the point bisa jadi solusinya.
Bisa juga ditujukan untuk audiens yang literasinya rendah atau tidak betah membaca konten panjang.
Karena kontennya pendek, call to action bisa langsung terlihat hanya dengan sedikit browsing saja.
Peluang call to action terbaca dan diklik jadi lebih tinggi karena hal ini.
Karena pendek, waktu yang diperlukan untuk menulis dan menyunting tidak selama pada konten lama.
Karena pendek dan straight to the point, biasanya konten ini kurang komprehensif. Ada search intent yang belum terjawab.
Yah, namanya konten pendek, pasti engagement time-nya juga rendah. Kalau hal ini dijadikan OKR, sebaiknya konten pendek tidak dibuat.
Karena belum banyak search intent yang terjawab, konten pendek bisa disalahartikan sebagai thin content/low value content yang berbahaya untuk performa situs.
Pastikan dulu audiens kita suka dengan konten pendek atau justru lebih suka panjang atau gaya in depth.
Kalau audiensnya suka pembahasan in depth, jangan buat konten pendek.
Meski kontennya pendek, jangan pakai satu referensi saja. Riset juga soal referensi yang lain karena konten pendek tetap harus mewakilkan keseluruhan artikel.
Buat langsung draft pertama. Karena kontennya pendek, langsung pakai kalimat efektif agar pembawaannya tidak bertele-tele.
Karena pendek, pembukanya harus punya hook yang benar-benar menarik audiens untuk membaca lebih lanjut.
Beban menyunting lebih ringan karena kontennya pendek. Namun, tetap lakukan hal ini dengan serius.
Di konten pendek sekalipun, kesalahan dalam penulisan seperti typo masih bisa terjadi.
Konten panjang tidak selalu menjadi solusi kok. Konten pendek seperti video reels, tulisan yang bahasanya to the point, atau video singkat Tiktok bisa tetap perform.
Kalau audiensmu sukanya konten yang pendek, jangan ragu untuk membuatnya.
Lebih baik pendek, tapi jelas. Daripada panjang, namun pembahasannya ngalor-ngidul.
Happy writing!
Referensi:
Mendapatkan backlink secara natural pastinya sulit, tetapi rasanya sepadan. Apalagi, jika ternyata backlink yang didapatkan…
Ketika sedang ingin mengetahui siapa untuk ditanya atau rujukan bagi ilmu SEO, maka Anda bisa…
Membangun Minimum Viable Product (MVP) untuk SaaS membutuhkan infrastruktur server yang stabil sekaligus efisien dari…
Bridge dari Kebiasaan Membaca Personal Blog dan Konten Naratif Mendalam ke Pengalaman JRPG Modern: Mengapa…
Traffic website turun biasanya jadi alarm atau peringatan, terutama bagi pengurus website atau SEO specialist.…
Alhamdulillah, saya menjadi pemenang Pintu Blog competition. Artikelnya ada pada tautan ini. Semoga bisa jadi…