Sebagai content writer, draft pertama artikel adalah hal yang istimewa. Mengapa? Karena draft tersebut adalah hasil karya awal dan cerminan asli kita sebagai penulis yang hanya diketahui oleh editor atau diri kita sendiri jika melakukan swasunting.
Apa ciri-ciri draft pertama artikel? Bagaimana cara membuatnya?
Draft pertama artikel adalah artikel hasil dari penulisnya yang belum melalui proses penyuntingan apa pun, bahkan termasuk swasunting.
Definisi ini juga berlaku pada naskah apa pun, seperti naskah puisi, prosa, novel, buku, atau pun karya lainnya seperti script video/film.
Terdapat berbagai ciri-ciri dari draft pertama artikel, yaitu:
Wajar saja draft pertama itu buruk karena secara alamiah, penulis memang seperti itu (sejago apa pun penulisnya). Makanya, jangan pernah remehkan atau skip dalam proses penyuntingan atau kurasi.
Pada dasarnya, cara menulis draft pertama artikel itu sama seperti menulis artikel secara umumnya. Namun, kamu bisa mengimplementasikan tips ini saat menulis draft pertama:
Banyak yang memengaruhi lama pengerjaan draft pertama artikel. Antara lain:
Setiap penulis akan punya output yang berbeda, sehingga editor harus bijak dalam meletakkan beban kerja pada masing-masing penulisnya.
Umumnya, hal ini akan dilakukan jika draft pertama artikel selesai:
Step by step-nya:
Prosesnya mirip dengan jika ada editor, namun step-nya lebih pendek:
Menulis tanpa editor memang prosesnya lebih sedikit, namun pendapat orang lain diperlukan agar kita tidak terjebak pada bias saat menyunting artikel kita sendiri. Menilai diri sendiri itu adalah hal yang sulit.
Karena draft pertama artikel biasanya masih banyak kesalahan dan perlu diperbaiki. Maka akan ada bahaya jika kita langsung posting draft pertama artikel. Antara lain:
Draft pertama artikel kita adalah sisi paling original dari kita sebagai penulis, yaitu manusia yang tidak luput dari kesalahan. Karena itu, perlu adanya pihak lain untuk memperbaiki atau perbaikan dari diri sendiri.
Jika memiliki editor, maka draft pertama kita akan punya banyak warna karena ada hal yang harus disunting pada artikelnya. Meski menambah pekerjaan, kualitas artikel kita bisa jadi jauh lebih baik.
Menulis dengan editor memang “kekangannya” lebih sedikit. Namun, ada bahayanya juga seperti penyuntingan penuh bias, atau kalau kita sedang malas, bisa saja kita langsung posting draft pertama artikel kita. Namun, ada bahaya yang mengintai seperti tidak tercapainya tujuan artikel karena banyaknya kesalahan yang terjadi.
Yuk sunting dulu draft pertama artikelnya, baik itu lewat swasunting atau pun dengan editor!
Membalas Google review adalah cara optimasi local SEO yang mudah, tetapi repetitif. Meski demikian, hal…
Ketika masuk kelas baru habis naik kelas atau naik tingkat, serta berbaur dengan mahasiswa jurusan…
Jika Anda sudah berkecimpung dalam dunia SEO, Anda mungkin pernah mendengar istilah "domain authority." Banyak…
Memilih warna untuk hunian kadang terlihat sederhana, namun hasil akhirnya bisa sangat berbeda dari yang…
Memahami bagaimana audiens berinteraksi dengan media merupakan langkah awal yang krusial dalam menyusun strategi konten.…
Dalam tata bahasa Indonesia, setiap kata memiliki peran tertentu untuk menyampaikan pesan secara jelas dan…