Siapa di sini yang pernah membaca suatu konten, lalu tidak sampai sepuluh detik, tidak mau membacanya lagi karena menimbulkan kesan seperti “apaan sih ini, konten gak jelas”. Hal tersebut bisa menjadi pertanda bahwa kontennya merupakan low value content.
Tidak hanya berbahaya untuk pembaca saja, bahkan low value content dapat berbahaya bagi pembuatnya.
Apa itu low value content? Apa saja ciri-ciri dan bahayanya? Bagaimana cara memperbaikinya?
Low value content adalah konten yang tidak memberikan nilai apa pun kepada pembacanya atau bernilai rendah.
Dikutip dari salah satu forum Support Google, low value content adalah konten yang tidak bernilai/bermanfaat di mata Google atau pun pembaca. Bisa dibilang, low value content hampir sama dengan thin content.
Dari perspektif SEO, low value content adalah konten yang:
Dari segi digital marketing, hal ini bisa juga jadi patokan:
Berikut beberapa kemungkinan penyebab adanya low value content:
Informasi yang tertulis di low value content pastinya tidak lengkap. Hal ini berbahaya, terutama di topik YMYL.
Bayangkan kalau kontennya memberi tahu untuk cara A, tetapi tidak dengan pre-caution-nya atau kurang lengkap caranya. Di topik YMYL, hal ini dapat mengakibatkan nyawa seseorang melayang.
Kita pastinya tidak ingin membaca konten yang dibuat setengah-setengah bukan?
Konten yang outdated juga berbahaya di topik YMYL. Misalnya, ada konten yang mengatakan obat A yang dulu aman, ternyata baru-baru ini dibilang berbahaya oleh BPOM. Maka konten tersebut harus di-update agar tidak menjadi hoax.
Situs yang selalu/sering menampilkan low value content pastinya akan punya reputasi yang buruk. Mengapa? Karena situs tersebut terlihat tidak niat dalam membuat konten untuk pembacanya/konsumennya. Hal ini akan semakin parah jika kontennya merupakan hasil plagiat atau pun tidak faktual.
Lama kelamaan, meski andaikan situs tersebut mendapatkan rank 1 atau pun featured snippet di Google, maka orang-orang yang tahu reputasi buruknya karena low value content tidak akan mau mengklik hasil pencariannya.
Tidak hanya berpengaruh ke klik. Efek dominonya, reputasi perusahaan (jika kamu mengurus situs perusahaan) juga bisa ikut terkena imbasnya.
Ingat bahwa situs kita bisa jadi first impression bagi pengunjungnya. Jadi, jangan rusak first impression tersebut dengan low value content.
Jika kamu menampilkan author box dalam blognya. Maka reputasi penulis dan editor bisa jadi taruhannya.
Kalau kita ingin mendapatkan uang dari Google Adsense (diterima Google Adsense), maka kita tidak boleh membuat low value content. Pasti situs kita akan ditolak kalau kontennya tidak bermanfaat untuk user atau di mata Google sendiri.
Ingin membangun passive income lewat Google Adsense? Modal yang diperlukan adalah konten yang berkualitas, bukan sampah!
Salah satu contoh konten yang tidak bernilai adalah konten yang diplagiat. Kalau pencipta aslinya mengetahui bahwa kontennya diplagiat dan tidak senang, bisa saja mereka memakai jalur hukum.
Kita tentunya tidak mau menghadapi hal tersebut bukan? Terlalu banyak makan waktu dan tenaga. Lagipula, plagiarisme adalah bentuk pelanggaran etika menulis dan pembuatan konten. Jadi, jangan pernah plagiat.
Boro-boro mau ranking, low value content seperti konten yang diplagiat berpotensi untuk kena penalti Google. Begitu juga konten yang lamannya broken link atau informasinya outdated.
Apalagi kalau menerapkan teknik black hat SEO seperti keyword stuffing. Sepertinya tinggal tunggu penalti Google saja.
Blog adalah salah satu bentuk content marketing di dunia digital marketing. Kalau kontennya tidak berharga, jangankan ada yang mau klik call to action atau tertarik mengenal brand lebih jauh. Habis membaca kalimat pembuka saja sepertinya user sudah pada pergi.
Kalau begitu, bagaimana user akan melangkah ke funnel selanjutnya dalam customer journey? Akhirnya tujuan content marketing gagal.
Jika kita telanjur membuat low value content. Maka solusinya adalah antara menghapusnya lalu membuat yang baru, atau memperbaikinya (menyuntingnya).
Berikut cara memperbaiki low value content:
Ingat kembali tujuan dari konten yang dibuat. Bentuk perbaikan konten tentunya adalah mendefinisikan ulang tujuan kontennya. Apakah untuk:
Biasanya, low value content punya outline yang terlalu sedikit.
Jika outline-nya dirasa hanya butuh dilengkapi, maka kita bisa memberikan tambahan outline saja, sesuai dengan search intent dari user.
People also ask dan 5w + 1h dapat membantu dalam pembuatan outline.
Dari outline dan konten, kita bisa melihat apakah konten kita sudah memenuhi search intent atau belum.
Konten tidak bernilai yang diperbaiki seharusnya sudah sesuai dengan search intent dari user.
Kalau kontennya tergolong low value karena tingkat plagiarisme yang tinggi, sebenarnya lebih baik dihapus. Namun, kalau ternyata plagiarismenya hanya di beberapa bagian saja, maka kita bisa menyuntingnya.
Setelah perbaikan selesai (biasanya dalam bentuk parafrase), maka kita bisa mengecek berapa persen plagiarismenya. 0% alias unik adalah yang terbaik.
Cara mengecek plagiarisme bisa dengan tools seperti:
Jika ada konten yang outdate, apalagi termasuk topik YMYL. Maka bentuk perbaikannya adalah update sesuai dengan referensi terbaru.
Konten yang diperbaiki dari awalnya misleading dan hoax menjadi faktual dan bermanfaat untuk pembaca.
Terakhir, setelah semuanya diperbaiki seperti kalimat pembuka, isi, penutup, plagiarisme, outline, kesalahan dalam penulisan, dll. Maka kita bisa mengecek ulang beberapa hal berikut ini:
Low value content itu tidak hanya berbahaya untuk pembacanya, tetapi juga pada kreatornya.
Sebagai win-win solution, jelas kalau kita harus membuat konten berkualitas tinggi. Pembaca mendapatkan informasi yang mereka inginkan dan kreator konten/pemilik website mendapatkan traffic/leads atau reputasi karena kualitas kontennya.
Jadi, jelas bukan kalau kita harus membuat high value content?
Sumber:
https://support.google.com/adsense/thread/125202531/low-value-content-need-explanation?hl=en
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…
Salah satu cara agar kita punya penghasilan pasif adalah lewat investasi atau trading saham. Capital…
Memiliki website di era digital bukan lagi sekadar gengsi atau formalitas. Banyak pemilik bisnis yang…
View Comments
Iya alasan ditolah kebanyakan ini low value conten semua
Salam MediaWeb4U
Wah, terima kasih banyak atas sharingnya. Jadi makin semangat untuk provide konten-konten berkualitas