“Konten kurus” atau thin content adalah hal yang sebaiknya tidak diterapkan saat melakukan optimasi mesin pencari (on-page SEO). Hal ini karena selain membuang waktu dan tenaga dalam pembuatannya, potensi bounce rate bisa naik (engagement time tidak lama), dan bahaya lainnya. Bahkan, terlihat seperti orang yang tidak niat untuk membuat sebuah konten.
Mari kita telusuri si “konten kurus” ini, mengapa tidak boleh dibuat, serta bagaimana cara mengatasi dan mencegahnya?
Thin content adalah konten yang sama sekali tidak ada manfaatnya untuk user atau dengan kata lain tidak memuaskan search intent user. Jadi, “konten kurus” ini bukan konten yang jumlah katanya sedikit. Kalau pun jumlah katanya sedikit, tetapi masih memenuhi search intent, maka kontennya bukan merupakan thin content.
Low value content dalam alasan penolakan Adsense bisa dibilang mirip dengan thin content.
Beberapa contoh thin content adalah sebagai berikut, bahkan ada yang termasuk teknik black hat SEO:
Secara umum, bahaya thin content sebenarnya berlaku kepada dua pihak, yaitu user dan performa situs.
Untuk user, bahaya/dampak negatif thin content adalah:
Sementara itu, untuk performa situs:
Kalau ada banyak konten di laman kita, kita bisa audit dulu keseluruhan laman yang kita miliki. Apakah ada yang awalnya terindeks lalu ranking, kemudian mengalami deindex atau ranking-nya mengalami penurunan?
Jika ada, segera kunjungi laman tersebut dan pastikan apakah masalah dari laman tersebut adalah thin content?
Setelah melihat dan mengetahui adanya thin content, segera lakukan penyuntingan. Misalnya:
Kelar menyunting? Jika lamannya mengalami deindex, segera minta Google untuk mengindeks ulang laman yang telah disunting.
Kalau rank-nya jeblos? Tinggal tunggu saja.
Untuk mencegah terciptanya thin content, berikan content brief dengan jelas. Isi content brief bisa berupa:
Jangan mengharapkan penulis paham isi kepala dan ekspektasi kita. Beberkan semuanya di content brief.
Dari topik/konten yang kita buat, apa saja yang kira-kira dicari oleh user? Pahami niat pencarian mereka agar kontennya relevan dengan apa yang user cari.
Bingung saat menentukan search intent? Cobalah untuk berempati atau manfaatkan 5W 1H.
Setiap konten yang telah dibuat, wajib melewati proses penyuntingan. Terkadang, kita hanya asal terima, lalu segera publikasi, padahal ada potensi thin content.
Sebagai editor, jangan pernah menyunting dengan asal-asalan, lakukan dengan benar. Jika kita tidak punya editor, maka lakukan self editing.
Sistem pagination yang salah dapat menyebabkan terjadinya thin content.
Baik itu mesin atau pun manusia, sama-sama tidak menyukai thin content. Lalu, apa alasan kita untuk terus menciptakan thin content? Tidak ada bukan?
Kalau kamu memasuki suatu laman dan ternyata informasinya tidak lengkap, tidak jelas, bahkan banyak kalimat tidak efektif, serta kelihatan hanya keyword stuffing. Pasti rasanya kamu ingin langsung keluar dari laman tersebut kan? Jadi, mari kita buat konten yang bermanfaat untuk user kita!
Sumber:
https://yoast.com/what-is-thin-content/
https://www.searchenginejournal.com/what-is-thin-content-how-to-fix-it/270583/#close
Alhamdulillah, saya menjadi pemenang Pintu Blog competition. Artikelnya ada pada tautan ini. Semoga bisa jadi…
Terdapat berbagai jenis backlink, tidak sekedar tautan yang mengarah ke situs kita saja dalam bentuk…
Terdapat klaim bahwa CTR menurun untuk halaman yang menarget informational intent. Salah satu cara untuk…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal dalam dunia digital,…
Kamu lagi cari perusahaan shipping dan logistik untuk berbagai urusan seperti ekspor? Mau kirim barang…
Apakah bisnismu sudah menerapkan digital marketing? Jika belum, maka kamu bisa tertinggal dari kompetitor. Sekarang…